Korupsi, oh korupsi!
Entah bagaimana menggambarkan dirimu apa adanya. Kau bahkan lebih tua dari usia kakek buyutku. Kau telah ada sejak manusia mengenal hidup berkelompok hingga kini, saat manusia mampu menjelajahi galaksi.
Korupsi, oh korupsi!
Entah bagaimana menjelaskan jejak-jejakmu. Kau bahkan ada disetiap negara bangsa. Bahkan karenamulah sejarah mencatat keruntuhan berbagai peradaban raksasa dimuka bumi.
Korupsi, oh korupsi!
Entah bagaimana menjelaskan asal-usulmu. Kau bahkan hadir disetiap tempat. Mulai dari lembaga pemerintah hingga pengurus masjid. Dari koorporasi raksasa hingga majelis taklim.
Ah, korupsi!
Memikirkan bagaimana menghilangkanmu adalah pekerjaan ‘orang gila’. Kau bahkan telah menjadi budaya bangsa ini. Kau adalah bagian dari kekayaan khasanah bangsa ini. Kau dapat ditemukan disetiap rekam jejak sejarah negeri ini, sejak zaman kerajaan, zaman penjajahan, hingga zaman kemerdekaan.
Korupsi, oh korupsi!
Hampir-hampir aku putus asa menyaksikan dahsyatnya ulahmu di negeri ini. Yang salah kau ubah jadi benar. Yang dusta kau ubah jadi terhormat. Hukum kau mainkan. Aparatnya kau jadikan ‘kerbau’ kesayangan. Moral birokrasi kau rusak. Pikiran rakyat kau ubah jadi bejat. Para pemimpin kami kau buat mabuk berat. Mabuk pada kekuasaan dan kekayaan, dua tanganmu yang paling dahsyat.
Korupsi, oh korupsi!
Kau memang terlaknat. Tega-teganya kau rasuki setiap elemen bangsa ini. Saat kami ingin bebas memilih pemimpin dengan hati nurani, kau datang menutupi mata hati. Senyumanmu yang berbentuk rupiah itu tentulah tak mampu kami tolak. Terlalu menggoda! Dan karena kami ini rakyat yang taat agama, tentu saja kami pandai menepati janji, meski bertentangan dengan nurani.
Korupsi, oh korupsi!
Ternyata kau pun tak puas hanya dengan merusak kami. Kau datang kepada para pemimpin kami, mengajarkan mereka tentang ‘Return of Investment’ dan ‘Break Even Point’ pada ‘bisnis’ Pemilu yang lalu. Maka rusak pulalah mereka. Kekuasaan dikelola dengan logika bisnis. Bisnis tanpa nurani. Kata Om Smith, “Modal sekecil-kecilnya untuk keuntungan sebesar-besarnya”. Maka jadilah kami ini komoditi bisnis bagi mereka. Atas nama kami, ‘RAKYAT’, mereka pun tega melakukan apa saja.
Korupsi, oh korupsi!
Inginnya aku teriak memakimu. Tapi, bukankah akan semakin tampak kegilaanku? Sebab yang ku teriaki pastinya hanya diriku sendiri. Bukankah aku yang menyodorkan lembaran lima puluh ribu rupiah agar KTP ku cepat selesai di kantor lurah? Bukankah aku juga yang menyodorkan amplop putih kepada dosen jutek agar bisa tutup strata? Bahkan aku juga yang bermohon-mohon pada Pak Polisi biar tak ditilang karena melanggar lampu merah?
Ah, korupsi…
Tega nian dikau merasuki kepribadianku. Lantas kepada siapa lagi negeri ini harus kami titipkan agar dapat terus tegak berdiri dan sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia? Haruskan negeri kaya nan indah ini menemui takdir keruntuhannya, sebagiamana telah terjadi pada peradaban-peradaban lain yang pernah jaya?
Korupsi, oh korupsi!
Ketahuilah, aku bahkan lebih mencintai bangsa ini dari diriku sendiri. Maka seandainya diriku ini adalah diri yang korupsi, maka biarlah rakyat menghukum mati diriku saja. Mungkin inilah satu-satunya jalan untuk memutuskan mata rantai kebiadabanmu di negeri yang kucintai ini. Dan, ketahuilah wahai korupsi! Jika anak-anak bangsa ini pun lebih mencintai negeri ini dibanding diri mereka sendiri. Maka hukuman mati, adalah harga yang pantas untuk para koruptor yang menjadi pengikut setiamu. Bahkan ketika itu adalah aku, kami dan mereka yang mencintai negeri ini. Biarlah kami sendiri yang menyiapkan peti-peti mati untuk mereka yang korupsi. Disini, di negeri tercinta ini…


0 komentar:
Posting Komentar