Kamis, 15 September 2011

QUO VADIS KOTA DUNIA?

Saya tertarik menulis opini ini karena dua hal, pertama oleh studi banding Walikota Makassar keliling Amerika Serikat bersama beberapa kabinetnya. Kedua, ulang tahun ke-484 Kota Jakarta yang menyisakan benang kusut persoalan kota begitu banyak. Dua kejadian berbeda ini menggelitik pikiran saya untuk bertanya, “akan dibawa kemana kota Makassar ini?” Akankah seperti kota-kota maju Amerika yang dikunjungi oleh Walikota? Ataukah seperti Kota Jakarta yang menumpuk persoalan hingga membuat warganya “hopeless” ?

Visi Kota Dunia

Ketika saya diminta tanggapan oleh beberapa rekan wartawan tentang perjalanan Walikota Makassar keliling Amerika, saya menjawab “setuju!”. Setuju karena sejak awal Walikota Makassar telah mendeklarasikan visinya untuk menjadikan Makassar sebagai kota dunia. Dan jika kita ingin membangun Makassar sebagai kota dunia maka “wajib” bagi kita melakukan banchmarking dengan kota dunia juga. Seperti itulah Daeng Xiao Ping memulai perubahan di China. Dari sebuah negara miskin menjadi raksasa dunia. Daeng Xiao Ping, melakukan banchmarking terhadap beberapa negara maju, termasuk Amerika dan Singapura.

Bagi saya, salah satu kontribusi penting Walikota Makassar saat ini adalah ketika beliau menancapkan sebuah visi yang obsesif bagi Kota Makassar, “Kota Dunia”. Bagi sebagian orang mungkin terlalu mengawang-awang. Tetapi bagi saya, seperti itulah seharusnya visi. Bukan sekedar deretan kata-kata yang normatif dan miskin makna. Visi Makassar menjadi Kota Dunia adalah visi yang mengajak kita berimajinansi, dan melahirkan banyak gagasan-gagasan perubahan dari berbagai perspektif dan disiplin ilmu sebagai jalan merealisasikan visi tersebut. Setidaknya, visi ini telah memberikan kita arah hendak kemana kota kita ini.

Bom Waktu Persoalan Kota

Namun jika kita membandingkan kondisi Makassar saat ini dengan visi kota dunia, tentu saja kita patut mengurut dada. Persoalan perkotaan bukannya teratasi tetapi malah semakin menjadi-jadi. Sebutlah misalanya persoalan kemacetan, seperti tidak ada solusi. Tiap sore sepulang kerja warga kota harus bersabar oleh antrian kemacetan hingga berjam-jam. Bahkan dititik tertentu (seperti Antang) kamacetan total hampir terjadi setiap hari. Persoalan kemacetan ini jika tidak segera diselesaikan pasti akan menjadi bom waktu persoalan kota yang lebih besar lagi di masa depan.

Persoalan lainnya adalah sanitasi dan persampahan. Sungguh ironis, sebuah kota besar seperti Makassar dengan jumlah penduduk kurang lebih 1,5 juta jiwa hanya didukung oleh 1 unit IPAL efektif. Itu pun tidak terintegrasi dengan IPAL Komunal yang dimiliki warga. Lantas dikemanakan semua limbah yang diprodeksi oleh kurang lebih 1,5 juta penduduk Makassar itu dibuang? Efeknya tentu saja akan merusak kualitas air tanah kita beberapa tahun yang akan datang. Belum lagi persoalan sampah. Tumpukan sampah yang telah menggunung di TPA Tamangapa tak mungkin kita biarkan seperti itu. Harus ada langkah strategis pengolahan sampah agar gunungan sampah di TPA tidak menjadi bom waktu.

Pembangunan juga semakin tidak terkendali. Pemerintah sangat tidak konsisten dengan pembagian kawasan sesuai dengan RTRW yang lama. Bangunan Mall dimana-mana. Bangunan Ruko Dimana-mana. Mini market dimana-mana. Bangunan Hotel dimana-mana. Pembagian 13 kawasan strategis terpadu sepertinya hanya isapan jempol belaka. Daya dukung perkotaan seperti Ruang Terbuka Hijau (RTH) jauh dari amanat UU No. 26 Tahun 2007 yaitu 30% dari luas daratan. Sebuah gambarang calon kota dunia yang gersang.

Ada juga persoalan tahunan seperti banjir. Di beberapa kawasan banjir sudah menjadi langganan warga, dan sepertinya belum akan memiliki solusi untuk bebrapa waktu yang akan datang. Dan masih banyak lagi persoalan lainnya: kebakaran, kesemrawutan pasar, penataan becak motor, penataan PKL, dan banyak lagi yang tidak bisa disebutkan disini.

Memulai Dari Rencana

Banyaknya persoalan kota yang kita hadapi saat ini bukan berarti menutup kemungkinan untuk mewujudkan Makassar menuju Kota Dunia. Kita semua warga Kota Makassar tentu saja tidak ingin mengikuti jejak Kota Jakarta saat ini, hopeless. Hanya saja, memperbanyak jalan-jalan keliling dunia juga tidak akan menyelesaikan apa-apa. Yang lebih dibutuhkan dari pemerintah saat ini adalah menyusun sebuah rencana, Master Plan Kota Makassar 2030.

Sungguh sebuah ironi, ketika pembangunan kota terus merangkak setiap hari sementara master plan kota tidak ada. Cepat atau lambat, rumah yang kita huni ini segera menjadi kota tanpa masterplan. Padahal sebagian besar persoalan kota hari ini berawal dari konsistensi pemerintah terhadap Rencana Tata Ruang dan Wilayah (RTRW) Kota Makassar.

Entah apa yang ada dalam benak pemerintah Kota Makassar saat ini, padahal semua daya dukung untuk menyusun RTRW Kota Makassar 2030, seperti dukungan politik, anggaran dan RTRW Propvinsi Sulsel telah ada. Kita menunggu politicalwill dari Walikota Makassar untuk segera mendesain Masterplan Kota Makassar 2030. Semoga sepulang dari Amerika, Walikota dan kabinetnya menindaklanjuti dengan keseriusan menyusun RTRW, agar jelas bagi warga kota ini, akan dibawa kemana kota Makassar ke depan. Quo Vadis Kota Dunia?

Readmore »»

Kamis, 04 November 2010

YANG PUNYA MAKASSAR

Kemaren ada sahabatku yang mutasi dan kembali bertugas di Makassar. Iseng-iseng aku menyuruhnya minta izin sama ‘yang punya Makassar’. Niatnya Cuma bercanda. Tapi aku jadi kepikiran, kira-kira kalau ada yang nanya siapa ‘yang punya Makassar’, saya harus jawab apa ya?

Tadi waktu aku singgah makan di sebuah rumah makan dekat kantor, aku jadi menemukan jawaban-jawabannya. Waktu lagi asik makan, masuklah dua orang anak muda usia sekolahan. Mobilnya mewah, jelas mereka anak orang kaya. Matanya, maaf, sipit. Dengan penuh percaya diri masuk ke rumah makan dan duduk di dekat meja saya. Sambil makan dengan lahap –kebetulan sangat laper, aku mencuri dengar pembicaraannya.

Mereka membicarakan aktivitas Bapak-bapaknya. Yang satu Bapaknya pemilik alat-alat berat yang rutin disewa semua proyek pemerintah. Yang satu lagi Bapaknya mengerjakan banyak proyek besar pemerintah seperti pelebaran jalan, reklamasi pantai, center point of Indonesia dan beberapa proyek strategis lainnya. Sebagai orang yang tahu berapa besaran anggaran untuk semua proyek itu, aku tak sadar menelan ludah. Sepertinya, aku sedang duduk dekat anaknya ‘yang punya Makassar’…

Beberapa waktu yang lalu, aku terlibat diskusi hebat dengan teman-teman kantor. Aku protes, mengapa begitu banyak pelanggaran bangunan dan sempadan jalan di Kota ini. Aku juga protes mengapa teguran dan kritikan Dewan tidak pernah digubris. Bahkan aku tak bosan-bosannya berkomentar ‘keras’ di media massa berbagai bentuk pelanggaran tata bangunan yang sangat ‘telanjang’ di kota ini. Hingga suatu ketika seorang teman memberikan informasi penting yang membuat saya juga menelan ludah. Ternyata pemilik sebagian besar lahan dan gedung strategis di kota ini adalah segelintir orang yang tak lebih dari hitungan jari tangan kita. Mereka itulah ‘yang punya Makassar’.

Adalagi ‘yang punya Makassar’ yang lebih hebat lagi. Jika ada lahan, termasuk pantai, yang sudah dipasangi patok atas namanya, maka 99,99% beberapa bulan kemudian lahan itu betul-betul akan jadi miliknya. Tak peduli yang menempati lahan itu orang banyak atau tidak. Tak peduli lahan-lahan itu bersertifikat atau tidak. Bahkan tak peduli lahan itu milik negara atau rakyat biasa, semuanya pasti beralih nama. Itu juga, ‘yang punya Makassar’.

Hahahahaha… Kita pasti bertanya, “Oh, yang punya bukan Walikota toh?”. Kalau itu sih pertanyaan saja sudah salah. Aku malah puyeng, tenyata yang punya Makassar bukan rakyat Makassar toh?

Sodara, percayalah, yang punya Makassar sama sekali bukan kita. Apalagi Walikota kita? Beuh, jauh... Yang punya Makassar itu yah pemilik sah (sertifikat) lahan-lahan di kota kita. Biar tidak Ge Er merasa memilki, cobalah jalan-jalan di kota ini. Tanyain siapa pemilik Karebosi, Mall, Perumahan-perumahan, Industri-industri, Tol, Pusat bisnis, Sekolah-sekolah elit, Pusat hiburan, de el el. Mereka itulah ‘yang punya Makassar’, dan jumlahnya tak lebih dari hitungan jari tangan kita.

Iya iya… aku tahu Sodara akan bertanya, “Lalu, apa gunanya Walikota dan birokrasinya? Apa gunanya Anggota Dewan yang terhormat?”

Ah, Sodara! Berat sekali rasanya menjawab pertanyaan itu sejujurnya. Birokrasi kita itu adalah kaki dan tangannya ‘yang punya Makassar’. Kalo dikampungku namanya ‘piaraan’. Birokrasi kita itu tukang stempelnya ‘yang punya Makassar’. Membuat semua pelanggarannya menjadi benar. Kata-kata mereka itulah hukum di tanah kita ini.

Lalu Anggota Dewan? Ah, Sodara! Ingin menangis rasanya. Masih ada juga yang menitip harapan sama Anggota Dewan. Mereka ini ibarat -maaf, kentut. Ya, ibarat kentut ! Suara kami itu hanya menimbulkan kehebohan sesaat, dan setelah itu senyap. ‘Yang punya Makassar’ hanya sempat berkerut mukanya karena bau kentut. Tapi setelah itu, jadi angin lewat. Ya, suara kami itu hanya angin lewat, Sodara…

Dan kita, Sodara. Kita ini budak di tanah kita. Hanya menjadi pelengkap cerita duka yang sama di semua kota di negeri tercinta ini. Hanya suara-suara sumbang yang menjadi pelengkap sunyi kerasnya kota ini. Hanya menjadi patung hidup dalam derap pembangunan yang tak punya arah…
Readmore »»

Kamis, 28 Oktober 2010

KORUPSI, OH KORUPSI!

(untuk Indonesiaku)

Korupsi, oh korupsi!

Entah bagaimana menggambarkan dirimu apa adanya. Kau bahkan lebih tua dari usia kakek buyutku. Kau telah ada sejak manusia mengenal hidup berkelompok hingga kini, saat manusia mampu menjelajahi galaksi.

Korupsi, oh korupsi!

Entah bagaimana menjelaskan jejak-jejakmu. Kau bahkan ada disetiap negara bangsa. Bahkan karenamulah sejarah mencatat keruntuhan berbagai peradaban raksasa dimuka bumi.

Korupsi, oh korupsi!

Entah bagaimana menjelaskan asal-usulmu. Kau bahkan hadir disetiap tempat. Mulai dari lembaga pemerintah hingga pengurus masjid. Dari koorporasi raksasa hingga majelis taklim.

Ah, korupsi!

Memikirkan bagaimana menghilangkanmu adalah pekerjaan ‘orang gila’. Kau bahkan telah menjadi budaya bangsa ini. Kau adalah bagian dari kekayaan khasanah bangsa ini. Kau dapat ditemukan disetiap rekam jejak sejarah negeri ini, sejak zaman kerajaan, zaman penjajahan, hingga zaman kemerdekaan.

Korupsi, oh korupsi!

Hampir-hampir aku putus asa menyaksikan dahsyatnya ulahmu di negeri ini. Yang salah kau ubah jadi benar. Yang dusta kau ubah jadi terhormat. Hukum kau mainkan. Aparatnya kau jadikan ‘kerbau’ kesayangan. Moral birokrasi kau rusak. Pikiran rakyat kau ubah jadi bejat. Para pemimpin kami kau buat mabuk berat. Mabuk pada kekuasaan dan kekayaan, dua tanganmu yang paling dahsyat.

Korupsi, oh korupsi!

Kau memang terlaknat. Tega-teganya kau rasuki setiap elemen bangsa ini. Saat kami ingin bebas memilih pemimpin dengan hati nurani, kau datang menutupi mata hati. Senyumanmu yang berbentuk rupiah itu tentulah tak mampu kami tolak. Terlalu menggoda! Dan karena kami ini rakyat yang taat agama, tentu saja kami pandai menepati janji, meski bertentangan dengan nurani.

Korupsi, oh korupsi!

Ternyata kau pun tak puas hanya dengan merusak kami. Kau datang kepada para pemimpin kami, mengajarkan mereka tentang ‘Return of Investment’ dan ‘Break Even Point’ pada ‘bisnis’ Pemilu yang lalu. Maka rusak pulalah mereka. Kekuasaan dikelola dengan logika bisnis. Bisnis tanpa nurani. Kata Om Smith, “Modal sekecil-kecilnya untuk keuntungan sebesar-besarnya”. Maka jadilah kami ini komoditi bisnis bagi mereka. Atas nama kami, ‘RAKYAT’, mereka pun tega melakukan apa saja.

Korupsi, oh korupsi!

Inginnya aku teriak memakimu. Tapi, bukankah akan semakin tampak kegilaanku? Sebab yang ku teriaki pastinya hanya diriku sendiri. Bukankah aku yang menyodorkan lembaran lima puluh ribu rupiah agar KTP ku cepat selesai di kantor lurah? Bukankah aku juga yang menyodorkan amplop putih kepada dosen jutek agar bisa tutup strata? Bahkan aku juga yang bermohon-mohon pada Pak Polisi biar tak ditilang karena melanggar lampu merah?

Ah, korupsi…

Tega nian dikau merasuki kepribadianku. Lantas kepada siapa lagi negeri ini harus kami titipkan agar dapat terus tegak berdiri dan sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia? Haruskan negeri kaya nan indah ini menemui takdir keruntuhannya, sebagiamana telah terjadi pada peradaban-peradaban lain yang pernah jaya?

Korupsi, oh korupsi!

Ketahuilah, aku bahkan lebih mencintai bangsa ini dari diriku sendiri. Maka seandainya diriku ini adalah diri yang korupsi, maka biarlah rakyat menghukum mati diriku saja. Mungkin inilah satu-satunya jalan untuk memutuskan mata rantai kebiadabanmu di negeri yang kucintai ini. Dan, ketahuilah wahai korupsi! Jika anak-anak bangsa ini pun lebih mencintai negeri ini dibanding diri mereka sendiri. Maka hukuman mati, adalah harga yang pantas untuk para koruptor yang menjadi pengikut setiamu. Bahkan ketika itu adalah aku, kami dan mereka yang mencintai negeri ini. Biarlah kami sendiri yang menyiapkan peti-peti mati untuk mereka yang korupsi. Disini, di negeri tercinta ini…
Readmore »»

Jumat, 22 Oktober 2010

QUO VADIS PERUSDA KOTA MAKASSAR

Sebagai sebuah kota besar yang terus berkembang, Kota Makassar telah menjadi salah satu target investasi yang menjanjikan. Kehadiran para investor diberbagai sektor ini telah berperan besar dalam meningkatkan taraf hidup orang banyak terutama karena daya serap tenaga kerja yang cukup besar pula. Akan tetapi, trend positif ini harus diikuti oleh perlindungan hak warga kota khususnya hak dasar kesejahteraan. Oleh karena itu keberadaan Perusda (BUMD) merupakan keniscayaan untuk menghindari komersialisasi bisnis murni semua sektor, terutama hak-hak dasar warga Kota.

Meskipun demikian, bukan berarti pengelolaan perusda itu semata-mata untuk peran-peran sosial. Dalam perspektif bisnis, perusda memiliki posisi yang sangat strategis. Faktanya sebagian besar perusda adalah pelaku bisnis monopoli dalam sektor-sektor strategis. Dengan kondisi seperti ini, perusda memiliki potensi penghasil keuntungan yang sangat besar. Oleh karena itu, sebagian besar perusda ini seharusnya menjadi ‘powerhouse’ pemerintaah kota untuk menambah Pendapatan Asli Daerah.

Namun demikian, pada faktanya, ‘das sein’ ini tidak terjadi. Bahkan beberapa perusda terus menerus merugi dalam waktu yang lama. Dari enam perusda yang dimiliki Kota Makassar (PDAM, PD Parkir, PD Terminal, PD Pasar, PD RPH dan PD BPR), hanya PD Parkir yang memberikan tambahan PAD secara memadai ke dalam Kas Pemerintah Kota. Itu pun karena pemerintah kota tidak membutuhkan modal untuk mengelolalnya. Tidur pun, perparkiran akan tetap menghasilkan, sebab sebagian besar titik-titik parker strategis dipihakketigakan.

Paling parah adalah PD Air Minum. Investasi milyaran rupiah oleh pemerintah kota bukannya meberikan laba, tetapi justru menumpuk utang. Sebagai perusahaan monopoli bagi penyediaan air bersih warga kota, seharusnya perusahaan ini mampu mengkapitalisasi modal yang dimiliki untuk memberikan layanan terbaik dan menghasilkan PAD yang besar. Kasus yang sama juga terjadi pada PD Rumah Potong Hewan. Sebagai perusahaan monopoli yang menjadi satu-satu supplier daging ternak berizin di Kota Makassar, PD RPH belum memberikan kontribusi yang menggembirakan.

Tak kalah kacaunya PD BPR. Salah satu perusda yang ‘hidup segan mati pun enggan’. Betapa tidak, perusahaan perkreditan ini tidak pernah mampu mengembalikan investasi pemerintah yang begitu besar. Bahkan asset-aset yang dimiliki sebagai jaminan nasabah dibiarkan rusak dan terlantar. Setali tiga uang, PD Pasar malah menyisakan banyak masalah ketimbang solusi bagi pedagang. Kerjasama dengan pihak ketiga banyak merugikan pedagang kecil dengan berbagai pungutan dan beban yang diberikan pengelola. Dari segi pemasukan PAD pun, PD Pasar sangat mengecewakan. Begitu pun dengan satu perusda lainnya, PD Terminal.

Sesungguhnya kritikan tajam terhadap kinerja berbagai perusda ini sudah sangat sering dilontarkan, baik oleh kalangan pengamat, LSM maupun DPRD. Akan tetapi respon pemerintah lebih cenderung apologis ketimbang lebih serius membenahi kinerja perusda. Tidak adanya ‘political will’ dari pemerintah kota ini menyebabkan kondisi perusda berlarut-larut dan tidak menunjukkan tanda-tanda perbaikan.

Menurut hemat saya, permasalahan utama semua perusda ini sama: MISMANAJEMEN. Apa yang dibutuhkan sebuah perusahaan bisnis untuk tumbuh dan berkembang selain ketersediaan modal dan lingkungan strategis yang mendukung? Modalitas yang dimiliki oleh semua perusda kota Makassar saat ini jika dikelola oleh orang yang tepat dan SDM yang kompeten akan mewujudkan ‘powerhouse’ yang mapan untuk mendukung pertumbuhan kota Makassar sebagai kota metropolitan.

Tetapi masalahnya bukan cuma itu. Selain mis manajemen, perusda juga masih menjadi sapi perahan penguasa dan sumber pembiayaan politik. Positioning seperti itu membuat manajemen perusda tidak lagi ditunjuk berdasarkan kompetensi dan profesionalisme tetapi berdasarkan pertimbangan politik. Sehingga akar permasalahan dari ‘pembusukan’ sistemik yang terjadi di hampir semua perusda yang dimiliki kota Makassar adalah ‘political will’ dari walikota sebagai pimpinan untuk mengubah haluan kebijakan yang telah mengakar ini demi kebaikan seluruh warga kota.

Apa yang diharapkan oleh warga kota ini bukan lagi berbagai apologi pemerintah kota atas kegagalan hampir semua perusda sebagai BUMD, melainkan sebuah gebrakan besar yang terencana untuk membenahi perusda. Kepentingan pribadi, kolega, kartel dan politik yang selama ini mencengkram perusda harus dibongkar dan mulai menata proses bisnisnya secara professional. Dan untuk itu memang membutuhkan keberanian serta ketegasan. Bahkan walikota harus berani melawan arus politik yang cenderung ‘memelihara’ tradisi kartel dan korup dalam mengelola kota Makassar yang kita cintai ini.

Tetapi persoalannya, beranikah walikota kita?

Readmore »»

Selasa, 26 Januari 2010

ANDAI AKU WALIKOTA

Blog ini bukan sebuah kampanye elektronik. Bukan pula kenarsisan dunia maya. Apalagi kalau dianggap sebagai deklarasi dini, na’udzu billah. Blog ini hanyalah kumpulan ide-ide saya tentang pemerintahan. Meski, saya bukan ahli pemerintahan. Bukan juga pakar tata Negara. Apalagi politsi ulung, hayhata… hayhata… Saya hanya seorang sarjana teknik yang serba bisa kecuali di bidang saya sendiri! Hahaha… Oleh karena itu ide-ide yang ada di blog ini sangat garing, dangkal, bahkan (hati-hati!) bisa jadi menyesatkan. Tapi inilah ide-ide saya, yang lahir dari kegelisahan pada kehidupan. Kegelisahan pada tanah tempat saya berpijak. Kegelisahan pada kota tempat saya hidup dan menciptakan generasi. Disini, di kota ini, Makassar.

Saya ingin berandai-andai, sekiranya saya memiliki kekuatan yang besar untuk merubah keadaan, maka perubahan seperti apakah yang seharusnya aku berikan kepada tanah ini dan warga kota ini? Saya ingin berandai-andai, sekiranya saya memiliki wewenang yang tinggi untuk merekayasa, maka kemanakah arah rekayasa kota ini? Dan saya ingin berandai-andai, sekirannya sayalah pembuat keputusan di kota ini, maka kepada siapakah keputusan-keputusan itu berpihak? Disinilah jawabannya! Jawaban jujur dan apa adanya dari seorang rakyat biasa yang sedang mengemban amanat mewakili hati nurani rakyat di pentas politik.

Akhirnya mestilah difahami, bahwa tulisan-tulisan yang ada disini boleh jadi sangat kacau dan melabrak aturan disana-sini. Sebab tulisan saya hanya mengalir sesuai pikiran dan pemahaman saya yang sempit. Hanya mengeksploitasi substansi ide-ide besarnya, dan bukan teknis implementasinya. Hanya seperti omongan komentator bola yang jauh dari penciptaan sejarah. Hanya setetes air dari lautan ide yang berkecamuk dalam pikiran warga kota. Dan ketahuilah, sesungguhnya sejarah hanya berpihak kepada mereka yang bekerja keras meraih takdir kepahlawanannya.
Readmore »»